Terjebak yang Enak

Seringkali saya merasa tidak nyaman dengan predikat yang saya pikul. Terlihat berat. Banyak hal dibelakangnya yang harus dipenuhi. Tapi tetap saja ada hikmah dibalik semua.

Predikat ini mungkin tak sengaja saya cari. Awalnya saya hanya ingin menghindari semua hal yang bisa membuat saya tergoda. Namun sepertinya tim marketing terlalu bergerak aktif.

Dan di sinilah saya. Terjebak enak dengan semua tanggung jawabnya, meskipun tertatih-tatih mengejar yang lainnya.

Maju itu ke depan, meskipun secepat siput.

Iklan

Puasa

Bukan merupakan tulisan saya asli. Hanya sekedar berbagi, supaya tak terhenti. Bila ada yg salah mohon koreksi.

*PUASA*

*oleh St. Yohanes Krisostomus*

Nilai dari puasa bukan hanya terletak pada persoalan menghindari makanan-makanan tertentu,
tetapi juga berhenti dan
melepaskan diri dari perbuatan-perbuatan dosa.
Seseorang yang membatasi puasa
dengan hanya berpantang daging
sesungguhnya merendahkan arti dari puasa itu sendiri.

*Apakah kamu berpuasa?*

Buktikanlah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Jika kamu melihat orang yang membutuhkan,
berbelas kasihlah kepada mereka.
Jika kamu melihat temanmu ditinggikan,
janganlah menjadi iri hati.

Untuk puasa yang sejati,
kamu tidak dapat hanya berpuasa dengan mulutmu.
Kamu harus berpuasa dengan matamu, telingamu, kakimu,
tanganmu dan dengan seluruh anggota tubuhmu.

*Berpuasalah dengan tanganmu,*
dengan menjaganya bersih dari keserakahan dan kekotoran.
*Berpuasalah dengan kakimu,*
dengan menjaganya tidak pergi ke tempat-tempat
yang dapat membawamu jatuh ke dalam dosa.
*Berpuasalah dengan matamu,*
dengan tidak membiarkannya melihat hal-hal yang tidak pantas.

Jika kamu menganggap puasa
hanya sebagai serangkaian larangan,
kamu akan semakin ingin melakukan hal-hal
yang justru dapat mengancam keselamatan jiwamu.
Tetapi jika kamu dapat menilai puasa
sebagai sesuatu yang menyelamatkan,
puasamu akan semakin berharga.
Karena penilaianmu terhadap puasalah yang akan mempengaruhi perbuatanmu.

Adalah sangat bodoh, bila kamu tidak makan daging
atau makan makanan lain dengan alasan berpuasa, tetapi anggota tubuhmu yang lain melakukan hal-hal yang tidak benar.

*Katamu, kamu tidak makan daging?*

Tetapi kamu membiarkan telingamu mendengarkan hal-hal yang tidak benar.
Tahukah kamu, kamu harus berpuasa dengan telingamu juga!
Artinya tidak membiarkannya mendengarkan hal-hal yang cabul,
perkataan-perkataan yang jahat dan tidak benar tentang sesama.

Selain berpuasa dengan tidak makan makanan tertentu,
mulutmu juga harus berpuasa dengan tidak membiarkannya
mengeluarkan kata-kata kotor, makian, gosip, juga berbohong.

*Apa bagusnya bila kamu tidak makan daging sapi atau daging ayam, tetapi kamu menggigit dan memangsa sesamamu manusia?*

✝ *SELAMAT MASUK MASA PANTANG & PUASA* ✝

Tahun Baru, Kegalauan Baru

Tag

, , ,

Masih ingat tulisan saya ini? Silakan baca sebelum meneruskan membaca yang satu ini.

Ya, ini bukan tentang tahun baru masehi, tapi ini tentang tahun baru penanggalan liturgi. Saya tak mau berdebat, saat ini pikiran saya sedang penuh. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab dengan gamblang dan dapat diterima menimbulkan kegalauan baru.

Tahun Baru, Bagaimana Resolusi Lama?

Saya sendiri entah membuat resolusi apa tahun ini. Tahun ini adalah tahun dengan tingkatan keimanan terendah sejak saya bergabung dengan komunitas. 10 (sembilan) tahun sejak pengenalan, dan 8 (delapan) tahun semenjak bergabung. Sudah banyak hal yang saya lewati, yang harusnya setiap langkah itu bisa saya ceritakan. Tapi biarlah. Baca lebih lanjut

Memaafkan dan Melupakan

Tag

, , , , ,

1 (satu) tahun terakhir ini banyak hal yang terjadi yang membuat saya merasa harus menjadi lebih menutup diri. Kehidupan saya hampir saja tidak dapat saya selamatkan lagi karena, kesalahan saya sendiri, yang terlalu membuka diri. Kenyamanan dan rutinitas menjadi sebuah hal yang harus saya hindari saat ini.

Membuka Diri

Ketika sebagian orang berkata bahwa open-minded adalah sebuah cara yang baik dalam berbaur, saya menyetujuinya. Membuka pikiran dan menyaring hal-hal baru di komunitas merupakan cara yang baik dalam memperbaiki dan mengenal diri sendiri dengan bantuan cermin, berkaca dari pengalaman orang lain. Cara yang baik untuk belajar memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan. Tidak ada yang salah dengan ini, dan saya menyetujuinya.

Namun bila menengok 1,5 (satu setengah) tahun belakangan ini saya merasa perlu ada pembatasan. Membuka pikiran bukan seutuhnya membuka diri, masih ada pembatasan informasi keluar dan masuk yang perlu penyaringan. Mungkin kata yang lebih tepat adalah privacy. Baca lebih lanjut