Menyentuh Kerahiman Ilahi

Tag

, , , ,

HARI MINGGU PASKAH II,
Hari Minggu Kerahiman Ilahi
Kis. 4:32-35; Mzm. 118:2-4,16ab-18,22-24; 1Yoh. 5:1-6; Yoh. 20:19-31.
BcO Kol 3:1-17.
Warna liturgi: Putih

Kemarin sore, saya seharian ada di sekitaran Alam Sutera. Dan berhubung hari ini akan ada acara keluarga, saya dan keluarga mengikuti Misa di Paroki Alam Sutera. Pada Homili, Pastor Yohanes (kalau tidak salah), memberikan sudut pandang lain mengenai Bacaan Injil yang mengingatkan saya.

Minggu Kerahiman Ilahi identik, menurut saya, dengan sindiran akan ketidakpercayaan dan kurangnya iman kita. Baca lebih lanjut

Iklan

Kepuasan

Seorang filsuf Yunani kuno, yakni Socrates (469-399 S.M.), percaya bahwa jika Anda sungguh2 bijak, Anda tidak akan terobsesi oleh kekayaan. Untuk mempraktikkan apa yg ia khotbahkan secara ekstrem itu, ia bahkan menolak untuk mengenakan sepatu.

Socrates suka mengunjungi pasar, tetapi ia hanya memandang beraneka ragam pakaian yg dipamerkan dengan penuh kekaguman. Saat seorang teman bertanya mengapa ia demikan terpesona, ia menjawab: “Saya suka pergi ke sana & menyadari betapa saya bahagia meski tak memiliki banyak hal yg ada di sana.”

Sikap di atas bertentangan dengan iklan yg terus-menerus menyerang mata & telinga kita. Para pemasang iklan menghabiskan jutaan rupiah untuk mengatakan bahwa kita takkan bahagia bila tidak memiliki produk terbaru mereka. Baca lebih lanjut

Terjebak yang Enak

Seringkali saya merasa tidak nyaman dengan predikat yang saya pikul. Terlihat berat. Banyak hal dibelakangnya yang harus dipenuhi. Tapi tetap saja ada hikmah dibalik semua.

Predikat ini mungkin tak sengaja saya cari. Awalnya saya hanya ingin menghindari semua hal yang bisa membuat saya tergoda. Namun sepertinya tim marketing terlalu bergerak aktif.

Dan di sinilah saya. Terjebak enak dengan semua tanggung jawabnya, meskipun tertatih-tatih mengejar yang lainnya.

Maju itu ke depan, meskipun secepat siput.

Puasa

Bukan merupakan tulisan saya asli. Hanya sekedar berbagi, supaya tak terhenti. Bila ada yg salah mohon koreksi.

*PUASA*

*oleh St. Yohanes Krisostomus*

Nilai dari puasa bukan hanya terletak pada persoalan menghindari makanan-makanan tertentu,
tetapi juga berhenti dan
melepaskan diri dari perbuatan-perbuatan dosa.
Seseorang yang membatasi puasa
dengan hanya berpantang daging
sesungguhnya merendahkan arti dari puasa itu sendiri.

*Apakah kamu berpuasa?*

Buktikanlah dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik.
Jika kamu melihat orang yang membutuhkan,
berbelas kasihlah kepada mereka.
Jika kamu melihat temanmu ditinggikan,
janganlah menjadi iri hati.

Untuk puasa yang sejati,
kamu tidak dapat hanya berpuasa dengan mulutmu.
Kamu harus berpuasa dengan matamu, telingamu, kakimu,
tanganmu dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Baca lebih lanjut