Pada bacaan Perjanjian Lama hari ini menceritakan mengenai Janda di Sarfat, dimana Nabi Elia di utus. Masa itu adalah masa kekeringan, karena tak ada hujan diturunkan.

Cerita Lama

Saya sering mendengar cerita ini dibacakan. Dari saat saya kanak-kanak, cerita ini memberikan gambaran bahwa dalam suasana “kekeringan”, Dia akan mengutus orang yang akan memberikan jalan keluar dengan cara-cara-Nya yang ajaib. Dia mengutus penolong yang menjadi utusannya membantu setiap kebutuhan.

Kini, saya kembali membaca ini, saya tertegun. Karena pada awal bacaan, janji yang diberikan-Nya, adalah untuk sang utusan. Dimana dia dijanjikan tempat yang nyaman dan mengenyangkan di tengah “kekeringan”. Tapi apa? Apakah Dia ingkar janji?

Cerita Indah Masa Kanak-Kanak

Mungkin dahulu saat masih anak-anak, cerita yang didengar memang seharusnya sebuah cerita yang terdengar indah dan memberikan harapan. Membuat anak menjadi memiliki harapan dan menumbuhkan iman. Anak yang tumbuh menjadi pribadi yang dekat dengan Sang Pemberi Harapan.

Sudut pandang dari cerita membuat rentetan cerita menjadi indah meskipun latar belakang keadaan yang memprihatinkan. Tidak ada yang salah. Justru, membatasi masalah sesuai dengan kondisi pendengar cerita diperlukan agar pesan tersampaikan.

Cerita Utuh Masa Dewasa

Semakin dewasa, tentunya sudut pandang cerita harus diubah. Hidup tak semua indah. Banyak hal harus dilihat dan dipertimbangkan untuk satu masalah saja. Gambaran utuh perlu didapat agar kesimpulan dan keputusan tepat diambil.

Sang Nabi, dijanjikan tempat yang nyaman. Namun kenyamanan tidak diberikan dengan percuma. Dia harus bernubuat untuk itu. Dengan imannya, yang dia nubuatkan terjadi. Menjadi berkat dua arah.

Dia menjadi penyelamat sang janda selama masa kekeringan. Dan dia pun dapat menikmati hasilnya.

Sang Pengutus

Kita tak pernah tahu kemana dan mengapa kita pergi. Biarlah itu tetap misteri.

Sang Pengutus yang mengutus Nabi Elia masih Sang Pengutus yang sama. Dia tahu kapasitas yang diutusnya.

Yang diperlukan adalah keikhlasan dan iman dalam menjalankan perutusan.

Iklan