Tag

, , , , ,

1 (satu) tahun terakhir ini banyak hal yang terjadi yang membuat saya merasa harus menjadi lebih menutup diri. Kehidupan saya hampir saja tidak dapat saya selamatkan lagi karena, kesalahan saya sendiri, yang terlalu membuka diri. Kenyamanan dan rutinitas menjadi sebuah hal yang harus saya hindari saat ini.

Membuka Diri

Ketika sebagian orang berkata bahwa open-minded adalah sebuah cara yang baik dalam berbaur, saya menyetujuinya. Membuka pikiran dan menyaring hal-hal baru di komunitas merupakan cara yang baik dalam memperbaiki dan mengenal diri sendiri dengan bantuan cermin, berkaca dari pengalaman orang lain. Cara yang baik untuk belajar memperoleh kebijaksanaan dalam kehidupan. Tidak ada yang salah dengan ini, dan saya menyetujuinya.

Namun bila menengok 1,5 (satu setengah) tahun belakangan ini saya merasa perlu ada pembatasan. Membuka pikiran bukan seutuhnya membuka diri, masih ada pembatasan informasi keluar dan masuk yang perlu penyaringan. Mungkin kata yang lebih tepat adalah privacy.

Mengenai hal ini, jauh sebelum ini pun, saya beberapa kali mengalami dan melakukan kesalahan.

Nyaman

Kata ini mungkin banyak dicari. Apakah saya menafikan bahwa setiap hari saya juga mencoba menemukan kenyamanan bagi diri saya? Tidak. Namun dalam setahun ini, belajar tentang kenyamanan yang saya cari dan telah dapatkan bisa membuat saya berada dalam kondisi terbawah saya karena terbuai.

Saya pernah mendengar mengenai nelayan Jepang yang menangkap ikan salmon untuk dijadikan sajian. Ikan yang tetap hidup sampai hendak disajikan akan lebih nikmat dari pada ikan yang diawetkan. Sedangkan meskipun di perahu ada kolam kecil untuk membawa ikan-ikan itu, kebanyakan akan mati. Jalan keluar yang ditemukan adalah dengan memasukkan hiu kecil yang akan memaksa salmon untuk tetap bergerak karena takut dimangsa.

Untungnya, buaian dan kenyamanan ini, menimbulkan masalah yang membuat saya harus bergerak kembali menata diri.

Rutinitas

Sibuk dengan pekerjaan yang dilakukan setiap hari. Waktu di tempat kerja lebih panjang daripada di rumah. Perhatian terhadap pekerjaan dan karir lebih tinggi daripada dengan keluarga. Lebih intens bercengkrama dan komunikasi dengan rekan kerja daripada dengan keluarga.Yah, rutinitas adalah sesuatu yang terjadi setiap hari.

Ada kutipan dari Henri de Lubac, “Habit and routine have an unbelievable power to waste and destroy.” Ya, seringkali menyadarinya, tapi kenapa kita patuh? Tanpa kita sadari, kita suka kepada sesuatu yang sudah teratur dan terstruktur. Kita melakukan hal itu dengan sukarela karena menimbulkan zona nyaman buat kita.

Tapi tanpa kita sadari juga seringkali kita terjebak. Malas, bosan dan cerita yang itu-itu saja mewarnai kehidupan sehari-hari. Dan kemungkinan besar menimbulkan depresi.

Then..

Tidak ada yang perlu saya bahas lagi di sini. Saya hanya perlu mengubah rutinitas, menentukan kembali prioritas, dan mencoba mencari tantangan lain.

Satu hal yang saya sadari, kehidupan ini adalah sebuah siklus. Kemungkinan besar, kondisi ini akan berulang lagi di masa depan.Dan tulisan ini adalah sebagai pengingat.

Saya sadari, saya perlu memaafkan diri sendiri dan melupakan niatan untuk melakukan hal yang tidak boleh dilakukan sebelum meminta maaf kepada orang lain yang tersakiti. Rekonsiliasi dengan batin dan diri sendiri yang sudah lama tidak saya lakukan.

Iklan