Peziarah

Ikon

Catatan Harian Seorang Peziarah, Dari Berbagai Sumber

Kembalinya Ke-Tujuh Puluh Murid

Isidorus De Loor,
Diego de San Vitores, Bruno,
Maria Fransiska dr ke-5 luka Yesus

Bacaan I : Ayb 42:1-3,5-6,12-17,
Mazmur : Mzm 119:66,71,75,91,125,130,
Bacaan Injil : Luk 10:17-24

Perikop ini adalah lanjutan dari perikop sebelumnya dimana Yesus mengutus ke-tujuh puluh murid untuk mendahuluinya pergi ke-beberapa kota. ( Luk 10 : 1 – 12 )

Mereka kembali dari tugas mereka membuka jalan dengan ketakjuban yg luar biasa akan apa yang telah mereka perbuat sepanjang perjalanan mereka. Tapi apa yang Yesus katakan tentang itu?

Dia mengingatkan kembali bahwa kuasa itu adalah pemberian sebuah anugerah. Dan selayaknya atas anugerah itu mereka mengucapkan syukur atasnya. Ditegaskan-Nya juga akan karunia yang diperoleh angkatan mereka dan memberikan contoh bagaimana seharusnya mengucap syukur.

Dalam permenungan, dalam pikiran saya, sempat terpikir apakah setiap murid itu berhasil menjalankan misinya? Mengingat pada akhir Injil ada seorang murid yang menyerahkan Yesus. Dalam hal ini saya melihat bahwa ini bukanlah fokus dari apa yang diinginkan, yaitu ucapan syukur atas apapun yang terjadi. Pelajaran yang saya ambil adalah bahwa Dia tidak menginginkan murid-murid semata-mata melihat semua dari hasil akhir perutusan itu, melainkan proses yang dilalui oleh mereka.

Mengenai hal mengucapkan syukur, Dia memberi contoh, yaitu menempatkan diri sebagai Anak. Anak yang selalu tunduk kepada orang tuanya. Anak yang mengenal orang tuanya melebihi siapapun. Anak yang selalu membutuhkan bimbingan orang tua dalam setiap langkah hidupnya.

Mengenai semuanya ini ditekankan adanya pendekatan proses, dengan menyebutan kata ‘mata’. Mata yang dimaksudkan adalah sebuah sudut pandang kita melihat sesuatu. Dan juga dengan meyakinkan diri tentang prasangka baik dalam setiap hal.

Apakah orang tua akan menjerumuskan kita?
Apakah atasan akan mengorbankan kita?
Apakah pendidik akan mengajarkan sesuatu yang buruk kepada kita?

Ini adalah pelajaran hidup mengenai bagaimana kita bisa melihat setiap hal yang berada di sekeliling kita dari sudut pandang positif dan mengucapkan syukur atasnya.

Masihkah Anda menyimpan keburukan orang lain? Bukalah hati dan lihat kembali dengan mata hati Anda mengenai persoalan yang mengganjal dan ucapkan syukur dalam segala hal.

About these ads

Filed under: Hari ini, Kitab Suci, , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 219 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: