Saya ingin berbagi cerita ini saat ibadat kemarin, namun sepertinya tidak diijinkan karena ini lebih kepada sebuah curahan hati.
Dalam kehidupan ada yang datang, dan ada yang pergi. Ini pula yang terjadi pada masa dua ribu tahun yang lalu saat murid-murid harus ditinggal dengan sebuah pesan, “Jangan tinggalkan Yerusalem, nantikan janji Bapa”. Dia pergi, dan akan ada penghibur yang menggantikan Dia.
Saya adalah seorang sebatang kara di ranah ibukota. Meskipun ada orang disekeliling saya, namun saya rasakan belum ada yang bisa mengisi kekosongan dalam satu peran khusus dalam perjalanan saya. Di kala ada seseorang yang saya harapkan mampu dan bisa menjadi peran tersebut, beliau telah pergi. Tanpa pesan, dengan berjuta tanya dalam hati. Meskipun saya tahu bahwa masih ada orang lain yang peduli dengan perjalanan rohani saya, namun saya belum bisa menerima salah satu di antara mereka untuk menggantikan peran beliau. Tak tahu mengapa.
Read the rest of this entry »
Filed under: Jalan Hidupku , Pengganti, Pergi
Saya telah lama, sejak masa kanak-kanak, sudah dikenalkan dengan Kitab Suci oleh orang tua saya. Secara formal, sekolah minggu, saya hadir di setiap pertemuan bahkan sampai dengan kelas 1 SMU. Saya pun seringkali berdiskusi dengan orang tua saya dan berusaha mempelajari tentang Kitab Suci. Memang saya sudah lama bergaul dengan Kitab Suci.
Pada masa remaja saya tertarik dengan Kitab Amsal yang konon dikarang oleh Salomo, Sang Raja Penuh Hikmat. Saya mempelajari Kitab ini karena ketertarikan saya akan kemasyhuran nama sang pengarang yang di dalamnya sarat akan nasihat dan pengertian yang, saya rasa, saya perlukan untuk melanjutkan kehidupan saya. Namun dalam pembelajaran saya menemukan sebuah kata yang hingga kini masih belum bisa saya definisikan, sebuah kata Bebal.
Sepanjang pembelajaran saya, banyak sekali definisi yang tertangkap hanya tersirat namun belum bisa saya terima.
Read the rest of this entry »
Filed under: Jalan Hidupku , Bebal
Kemarin malam, saya diminta untuk memimpin ibadah mingguan di lingkungan basis saya. Saya mencoba untuk mempersiapkan dengan bentuk pendalaman iman.
Sampai di tempat, saya agak terkejut karena sebenarnya ada sesuatu yang lain pada pertemuan semalam. Ada acara lain yang harus diselipkan di antaranya. Tapi apa daya, saya belum terbiasa dengan model seperti ini.
Read the rest of this entry »
Filed under: Basis , Basis, Ibadat